Tuesday, 1 January 2013

BAGAIKAN PERCIKAN AIR HUJAN

                            


     Kitakah Yang Takut Mencintai, Takut Dicintai dan Takut Jatuh Cintai
 

Cinta adalah sebuah kata yang paling menghebohkan di abad ini. Coba saja tengok tema sinetron – sinetron sampai telenovela, ketoprak humor sampai film – film laga, lagu – lagu nasional sampai internasional dari campur sari, dangdut, pop sampai R & B, dan puisi – puisi kacangan khas pinggiran jalan. Tak luput pula slogan – slogan politik, dari Cinta produksi dalam negri, kami cinta indonesia, cinta tanah air dan bangsa, dan slogan – slogan lainnya.

Cinta mendapat muaranya sendiri dari anak balita, remaja, pemuda sampai dewasa. Seolah – olah adalah benar ungkapan “Live Without Love As a Sky without Star”, hidup tanpa cinta adalah bagaikan malam tanpa bintang. Duh betapa gelap dan suramnya malam itu.

Atau bagi pecinta makanan akan berkata hidup tanpa cinta adalah bagikan sayur asam tanpa garam. Walau sebenarnya yang namanya sayur asam kan yang penting asam bukan asin, kalau asin namanya asinan sayur, tul gak?

Jadi adalah lumrah – kata para pecinta – kalau ada muda mudi yang memadu cinta walau masih SMP kelas dua bahkan mungkin walau belum lulus Te Ka. Jalan kemana – mana berdua, mau makan ingat dia, atau SMS – an pakai Handphone papa (wah ketahuan dong).

Nah, gaswatnya. Eh, gawatnya. Fenomena ini mulai merambah kelompok yang dulu punya slogan “ Takut Mencintai, Takut Dicintai dan Takut Jatuh Cinta”. Mereka sudah mulai mencoba – coba (anggap oknum saja) untuk mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya. Ukhti atau Akhi, ana uhibbuka fillah.

Kalau lihat konteks kalimatnya dan riwayat haditsnya mungkin akan terkesan biasa – biasa saja. Karena ungkapan itu kan artinya kita mencintai saudara semuslim kita karena Allah. Tapi kalau ucapan itu didasari oleh niat agar ada hubungan lebih diantara dua insan yang berlainan jenis, dan ucapan itu hanya diungkapkan pada si dia, lewat SMS bersyair cinta atau lewat surat merah jambu bergambar bunga maka tentu akan lain maknanya.

Sehingga ketika fenomena penyebaran virus itu terlihat pada para anggota remaja masjid maka jadilah sebuah istilah baru “Masjid Biru”, atau ketika menyerang para aktivis Lembaga Dakwah Kampus maka jadilah ia “Kampus Biru” (mohon maaf buat kampus yang dikenal sebagai kampus biru), atau ketika virus itu menerpa para aktivis partai dakwah di DPRa dan DPC maka keluarlah istilah “Partai Biru”.

Apakah karena sekarang dakwah telah terbuka, dimana pertemuan – pertemuan yang berbaur walau terpisah maka jadi benarlah pepatah jawa “ Tresno Mergo Soko Kulino”, cinta bermuara karena sering bersama. Bersama dalam satu tempat kegiatan, bersama karena sering berinteraksi lewat SMS, atau bersama dalam alam hayalan ketika umur sudah selayaknya menikah sehingga seolah – olah mengkapling – kapling seseorang untuk kita bayangkan sebagai pendamping hidup. Dan akhirnya lama – lama mekarlah benih cinta yang disuburkan oleh “kebersamaan” tersebut.

Saudaraku yang telah berikrar di jalan dakwah, marilah kita mengkoreksi kembali niatan kita berada di jalan dakwah ini. Untuk mencari ridlo Allah kah atau untuk mencari pendamping hidup kitakah? Kalau awalnya kita ingin mencari ridlo Allah, terus kemudian melenceng. Maka mari kita luruskan niat kita kembali. Kalau dari awal niatan kita untuk mencari pendamping hidup. Ingatlah bahwa hidup kita sementara. Masih ada kampung akhirat yang lebih kekal menanti. Dekatkan diri kita pada Allah dan mintalah kepada-Nya yang terbaik.

Jika anda adalah akhwat, dan anda melakukan ini karena tuntutan umur dan tuntutan orang tua yang ingin cepat mendapatkan menantu. Dan anda melihat realita ummat lebih banyak aktivis dakwah dari kalangan akhwat dibanding ikhwan, dan anda takut tidak kebagian. Maka ingatlah bahwa Allah adalah pengatur hidup kita. Ingatlah bahwa tinta telah kering dan lembaran telah ditutup. Apa yang telah ditulis di Lauh Mahfudz tak akan berubah kecuali dengan Irodah-Nya. Maka dekatkan diri anda kepada Dzat yang memiliki dan menguasai Catatan Kehidupan itu. Dan jika anda ingin mendapatkan seorang suami seperti Sayidina Ali, maka tingkatkanlah kualitas anda untuk menyamai Fatimah Az Zahra.

Thursday, 29 November 2012

FOTO DERITA JEPANG 1945, KORBAN BOM ATOM HIROSHIMA DAN NAGASAKI



Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat mengirimkan 2 buah pesawat jenis B-29 yang membawa bom atom “Little Boy” dari markas Amerika di Filipina. Pesawat bernama Enola Gay ini membawa bom nuklir dengan massa 55 ton. Tepat pukul 9 pagi, bom tersebut dijatuhkan di kota Hiroshima hingga area seluas 50 kilometer persegi seketika rata dengan tanah. Tiga hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Agustus 1945, Enola Gay kembali menjatuhkan bom “Fatman”. Kini sasarannya adalah kota Nagasaki, kota itu luluh lantak kira-kira seluas 100 kilometer persegi akibat hantaman bom dengan massa 105 ton. Dua peristiwa tersebut menewaskan kurang lebih 220.000 orang, dan ribuan lainnya menderita akibat radiasi. Senin kemarin, 6 Agustus 2012, Hiroshima menggelar upacara peringatan 67 tahun peristiwa bom nuklir. Dikutip dari situs

Friday, 9 November 2012

Housekeeping


                                                        



Housekeeping atau Tata Graha adalah salah satu bagian atau department yang ada di dalam hotel yang menangani hal – hal yang berkaitan dengan keindahan, kerapian, kebersihan, kelengkapan dan kesehatan seluruh kamar, juga area – area umum lainnya, agar seluruh tamu maupun karyawan dapat merasa nyaman dan aman berada di dalam hotel. Selain itu Housekeeping department merupakan bagian rumah tangga hotel yang bertugas membuat perencanaan, perawatan / pembersihan semua kamar tamu, ruang kantor, lobby, terrace, corridors, lift / elevator, toilet umum, public space, locker’s room, linen dan uniform rooms, halaman, taman, kolam renang dan ruang parkir.
B. JOB DESKRIPSI
Struktur organisasi di Tata Graha atau housekeeping dipengaruhi oleh besar atau kecilnya hotel, banyak atau sedikitnya karyawan serta system operasional yang digunakan